Halimah hendak bertandang ke rumah Siti!
(Janda Berhias Tak Mandi Berdimbar)
Oleh Sahril
’Halimah hendak bertandang ke rumah Siti!”, adalah sebuah kalimat bahasa Melayu dialek Deli yang diteliti oleh Tengku Syarfina untuk disertasi beliau di Sekolah Pascasarjana USU. Beliau memilih 124 responden yang terdiri atas kalangan orang kebanyakan dan kalangan bangsawan Melayu; pendidikan dasar, menengah, dan tinggi; kelas sosial atas, menengah; dan bawah; dan yang lebih banyak menggunakan bahasa Melayu dialek Deli daripada bahasa Indonesia, seimbang penggunaan bahasanya, dan lebih banyak memakai bahasa Indonesia daripada bahasa Melayu dialek Deli.
Penelitian ini melihat dari segi ”Pemarkah Sosial Penutur Bahasa Melayu Deli” yang ditinjau dari sudut fonetik akustik yakni frekuensi, modul, dan intensitas. Menggunakan perangkat komputerisasi dengan program frag. Sesuatu yang ingin dicapai oleh Tengku Syarfina adalah mencari pola ucap.
Begitulah ilustrasi dari disertasi Tengku Syarfina yang telah diujikan di depan Rektor USU pada tanggal 13 Juni 2008. Tulisan ini, bukanlah untuk membahas hasil disertasi tersebut, tetapi ada sesuatu yang menarik dari kalimat ’Halimat hendak bertandang ke rumah siti!’ itu. Apanya yang menarik? Berikut ini adalah ilustrasi dari setengah kajian ilmiah dan setengah lagi fiksi.
Namanya Halimah,
janda muda ditinggal mati suami
yang ditelan ganasnya Selat Malaka.
Empat bulan menikah,
bibit disemai belum sempat tumbuh.
Suami dicinta karam di laut.
Tinggallah Halimah mengurai tangis siang dan malam.
Masa idah telah berlalu,
rindu Halimah pada suaminya belumlah pupus.
Malam bermimpi, siang pun mengigau,
kalau suaminya belumlah pulang.
Menjelang petang, duduk termenung
seakan menunggu suami pulang
membawa ikan untuk dipanggang.
Wajah rupawan pelan menghilang,
badan sekerat hampir tinggal tulang.
Makanan dihidang tak ada disentuh.
Kalau pun ada karena ibunya memaksa.
Walaupun begitu, Halimah tetap berhias,
setiap pagi mandi keramas.
Katanya, tadi malam habis berganas
bersama suaminya yang telah tiada.
Menjelang sore, Halimah berhias
menanti suami pulang melaut.
Begitu pun ibu bapaknya tetap menurut,
walau kasihan melihat anak sematawayangnya itu.
Telah berbilang orang pintar diundang,
tetapi hasilnya belumlah gemilang.
Suatu ketika Halimah dibawa bertandang
ke rumah Siti.
Siti adalah teman sepermainan Halimah
semenjak masa kecil hingga masing-masing berumah tangga.
Antara keduanya pun ada ikatan keluarga.
Siti menyambut Halimah dengan pelukan sedih,
Halimah hanya menatap hampa.
Tak ada ujar yang terucap dari bibirnya
yang dulu dipuji dan dipuja jejaka
dengan pujian delima merekah,
kini kisut ditelan penderitaan batin.
Walau di situ, masih menempel warna lipstik,
tetapi tak mampu memancarkan
cahaya kecantikan Halimah yang dahulu.
Keduanya dikenal sebagai bunga kampung
yang sangat mekar dan ranum.
Sehingga banyak lelaki mengincar mereka,
di antaranya hanya putra Datuk Penghulu
yang berhasil berlabuh di hati Halimah,
sedangkan di hati Siti adalah keponakan Datuk Penghulu.
Setahun berlalu telah,
Halimah sedikit berubah.
Hatinya tabah menerima musibah.
Telah berbilang orang kampung memayu Halimah,
kepada jejaka maupun duda.
Banyak sudah di antara mereka datang bertandang,
tetapi tak seorang pun dipandang Halimah.
Orangtuanya semakin gelisah,
status janda begitu membuat gundah.
Banyak bisik dan cerita miring
datang bertubi menerpa ke telingga mereka.
Bukannya takut ataupun malu,
tetapi niat mereka supaya orang lain tak lagi berdosa,
akibat membuat kisah mengada-ada.
Halimah tahu, tentang nasibnya.
Ia pun gundah ingin mengakhiri.
Tetapi tiada seorang yang mampu
menandingi mendiang suaminya.
Setiap selesai sembahyang,
ia bermunajat agar dikirimi
seorang lelaki yang pantas untuknya.
KEKERASAN DALAM CERITA TRADISI LISAN
Oleh O.K. Sahril, S.S.
(Balai Bahasa Medan, Depdiknas)
Tradisi lisan atau folklor lisan bisa berbentuk cerita, teka-teki, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Bentuk cerita dan fabel, misalnya cerita Nyai Roro Kidul dan Si Kancil Yang Cerdik. W.R. Bascom dalam bukunya Four Functions of Foklore (1954) mengatakan bahwa tradisi lisan/folklore mencerminkan suatu aspek kebudayaan, baik yang langsung maupun yang tidak langsung, dan tema-tema kehidupan yang mendasar, misalnya kelahiran, kehidupan keluarga, penyakit, kematian, penguburan dan malapetaka, atau bencana alam yang universal, seperti yang terdapat dalam cerita Nyai Roro Kidul dan cerita lainnya.
Cerita tradisi lisan yang berasal dari berbagai pulau di
Menggunakan cerita tradisi lisan dalam bentuk yang disebut nursery rhymes untuk anak-anak Taman Kanak-Kanak dan juga anak-anak yang sudah bersekolah. Akan tetapi, akhir-akhir ini, guru-guru sekolah maupun ibu-ibu rumah tangga agak enggan menggunakan nursery rhymes dengan berbagai alasan. Misalnya, terlalu banyak kekerasan dan sexism yang terdapat dalam cerita, dalam bentuk penyiksaan dan pembunuhan baik terhadap anak-anak kecil maupun orang dewasa. Seolah-olah fairy tales adalah tempat berkembangbiaknya kekejaman, kedengkian, dan dendam kesumat. Jika kita baca dan amati cerita tradisi lisan kita bisa melihat tidak saja ada unsur kekejaman dan kedengkian, tetapi juga seakan-akan tersaji unsur kanibalisme.
Cerita-cerita lisan pada abad ke-19 banyak memperlihatkan kekerasan, manipulasi psikologi, dan banyak pembunuhan. Semua cerita tradisi lisan diulang kembali dalam bentuk tulisan oleh orang dewasa. Kenyataan ini mempengaruhi persepsi anak karena hubungan emosional dengan cerita yang mereka ketahui waktu kecil sulit untuk dianalisis secara obyektif. Seakan-akan, cerita tradisi lisan hanya bisa dinikmati tetapi tidak untuk dianalisis. Cerita tradisi lisan Indonesia banyak mengandung kekerasan, misalnya meninggal karena diterkam harimau, dikutuk oleh ibu kandungnya, bunuh diri, keangkaraan seorang pemimpin terhadap rakyatnya, menjelma menjadi pohon, menjelma menjadi seekor ular, malapetaka besar, dan lain-lainnya.
Ambil misal pada cerita rakyat Sumatera Utara, di antaranya Asal Mula Danau Si Losung dan Si Pinggan, berkisah tentang perkelahian antara seorang abang dan adik di tanah Batak. Oleh masyarakat setempat, keberadaan Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan dikaitkan dengan adanya peristiwa yang sangat luar biasa, yang pernah terjadi di daerah itu. Peristiwa itu diceritakan dalam sebuah cerita rakyat yang masih hidup dalam masyarakat Lintong Ni Huta, Tapanuli Utara. Konon, dahulu ada dua orang bersaudara, yang tua bernama Datu Dalu, sedangkan adiknya bernama Sangmaima. Orang tua mereka baru saja meninggal dunia, karena diterkam harimau saat mencari tumbuhan obat-obatan di hutan. Kedua orang itu hanya meninggalkan warisan berupa sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, jika orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh ke tangan anak yang tertua. Sesuai hukum adat itu, maka Datu Dalu-lah yang berhak memiliki tombak pusaka itu. Suatu ketika, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi hutan. Datu Dalu bersedia meminjamkan tombak pusakanya, dengan syarat Sangmaima harus menjaganya dengan baik agar tidak hilang.
Begitu juga pada cerita rakyat Asal Mula Kolam Sampuraga. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang asal mula Kolam Sampuraga yang terdapat di daerah Padang Bolak, Kabupaten Madina (Mandailing Natal), Sumatera Utara. Menurut masyarakat setempat, Kolam Sampuraga merupakan penjelmaan dari seorang pemuda bernama Sampuraga, yang dikutuk oleh ibu kandungnya sendiri.
Asal Mula Pulau Si Kantan. Menurut cerita, Pulau Si Kantan dulunya tidak ada. Namun, ratusan tahun yang lalu telah terjadi sebuah peristiwa yang sangat luar biasa, sehingga pulau ini muncul di tengah-tengah Sungai Barumun. Peristiwa tersebut diceritakan dalam sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Labuhanbatu. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama si Kantan yang menjelma menjadi sebuah pulau, karena dikutuk oleh ibu kandungnya.
Batu Gantung (Legenda Kota Parapat). Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat. Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu.
Kisah Kelana Sakti. Cerita ini mengisahkan bahwa pada zaman dahulu kala di daerah Sumatera Utara, berdiri sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Purnama yang diperintah oleh Raja Indra Sakti, seorang Raja yang terkenal adil dan bijaksana. Negeri yang dipimpinnya tersebut selalu dalam suasana aman sejahtera dan makmur sentosa. Setelah mangkat, sang Raja tidak digantikan oleh putranya, karena masih kecil. Maka kemudian, sang Raja digantikan oleh seorang Panglima Kerajaan bernama Badau yang memiliki sifat angkuh dan sombong. Sejak Panglima Badau memerintah, Negeri Purnama menjadi kacau balau. Seluruh rakyatnya menjadi resah dan menderita. Di akhir cerita ini, yang memulihkan keadaan yang sedang kacau balau tersebut, bukan dari keluarga raja, melainkan seorang pemuda dari keluarga rakyat biasa bernama Kelana Sakti. Cerita ini sangat populer di kalangan masyarakat Sumatera Utara, yang dikenal dengan Kisah Kelana Sakti. Kelana dan ayahnya berusaha mempertahankan harta benda yang mereka miliki. Namun mereka kalah kuat. Kelana dan ayahnya dihajar para prajurit itu. “Tolong, jangan sakiti anak dan suamiku. Ambillah harta yang kalian inginkan,” Ibu Kelana mengiba. “Sudah, jangan cerewet. Ayo ikut kami ke istana!” bentak seorang prajurit sambil menyeret ibu dan ayah Kelana. Melihat ibu dan ayahnya diseret, Kelana berteriak-teriak memanggil ibu dan ayahnya, “Ayah…Ibu…, jangan bawa ibu dan ayah saya, tuan!” Teriakan Kelana itu membuat para prajurit kerajaan tambah jengkel. Tiba-tiba, beberapa prajurit mendekati Kelana dan menghajarnya hingga pingsan. Setelah itu, prajurit tersebut pergi meninggalkan Kelana yang masih tergeletak di tanah.
Kisah Pohon Enau. Di Sumatera, tumbuhan ini dikenal dengan berbagai sebutan, di antaranya nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk, dan bagot. Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik dan mampu mendatangkan hasil yang melimpah pada daerah-daerah yang tanahnya subur, terutama pada daerah berketinggian antara 500--800 meter di atas permukaan laut, misalnya di Tanah Karo. Berkisah tentang si Beru Sibou, menjelma menjadi pohon enau. Air matanya menjelma menjadi tuak atau nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya menjelma menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan untuk atap rumah. Tubuhnya menjelma menjadi pohon enau yang dapat menghasilkan buah kolangkaling untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman.
Simalungun merupakan salah satu suku asli dari Sumatera Utara. Dalam bahasa Simulungun, kata “simalungun” memiliki kata dasar “lungun” yang berarti “sunyi”. Diberikan nama demikian, karena penduduk daerah itu masih sedikit dan pemukiman mereka terletak saling berjauhan. Orang Batak Toba menyebutnya “Si Balungu”, sedangkan orang Karo menyebutnya “Batak Timur”, karena bertempat di sebelah timur mereka. Di daerah ini, terdapat cerita rakyat yang sangat terkenal, yaitu Kisah Putri Ular. Cerita ini mengisahkan kegagalan seorang putri raja yang cantik jelita untuk dijadikan permaisuri oleh seorang raja muda yang tampan, karena sang putri tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular.
Legenda Lau Kawar. Legenda Lau Kawar merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo. Menurut masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama Kawar. Dahulu, daerah tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah, meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini. Suatu waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau.
Konsep Kesetiaan dan Kedurhakaan
Tentang konsep kekuasaan misalnya, dalam tradisi sastra klasik, berkembang ajaran bahwa penguasa memerintah berdasarkan mandat dari Tuhan, dan bukan dari rakyat. Jika ditelusuri, ajaran ini, antara lain, pernah berkembang dalam tradisi politik di zaman dinasti Umayyah dan Abbasyiah, di mana penguasa dianggap sebagai “bayangan Tuhan di muka bumi” (zillullah fil Ard). Pada teks Melayu klasik, semisal Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Adat Raja-raja Melayu, Hikayat Merong Mahawangsa, Hikayat Patani, Taj al-Salatin, Undang-undang Melaka dll. seringkali mendeskripsikan pengadopsian gelar-gelar serupa, semisal Zillullah fil Ard, Zillullah fil Alam, “Khalifah Allah di Bumi” dll. oleh para penguasa.
Dalam tradisi politik Islam Melayu, seperti tampak dalam teks Sejarah Melayu atau Taj al-Salatin, misalnya, raja atau penguasa memang merupakan figur dan lembaga yang terpenting. Raja dianggap sebagai orang yang mulia dan mempunyai berbagai kelebihan. Posisi raja adalah setingkat dengan Nabi, dan sebagai pengganti Allah di muka bumi. Dalam hal ini, teks Taj al-Salatin menganalogikan Raja dan Nabi sebagai “dua permata dalam satu cincin”. Konsep ini tentu saja mengandung arti bahwa penguasa mempunyai dua kekuasaan: keduniaan, dan keagamaan. Bahkan, dalam beberapa mata uang Malaka abad 15 misalnya, Sultan yang memerintah dinyatakan sebagai Nashir al-Dunya wa al-Din (Penolong dunia dan Agama). Oleh karenanya, kekuasaan raja atau penguasa menjadi muqaddas atau suci, dan wajib hukumnya bagi rakyat untuk taat kepada penguasa dengan melaksanakan apapun titahnya.
Sifat mutlak kekuasaan raja atau penguasa dalam tradisi ini kemudian lebih diperkuat lagi dengan konsep “setia” dan “durhaka”, yang juga meniscayakan kemutlakan kekuasaan raja, sehingga rakyat dituntut untuk setia tanpa batas. Mereka yang ingkar (durhaka) kepada raja akan menerima hukuman. Hukum sendiri, dalam Undang-undang Melaka misalnya, dikemukakan sebagai sebuah aspek martabat raja: “…siapa saja yang melanggar apa yang telah dinyatakan dalam undang-undang ini, dinyatakan bersalah melakukan pengkhianatan terhadap Sri Baginda…”. Pada gilirannya, posisi hukum demikian seringkali mengakibatkan munculnya tindakan-tindakan raja yang sewenang-wenang, tidak bertumpu pada azas rule of law, tidak terbuka terhadap keragaman, dan seterusnya.
Adanya konsep ini, membuat cerita rakyat kita kurang berterima terhadap kehidupan anak-anak. Mereka hidup dalam konsep demokrasi yang begitu liar. Tayangan-tayangan televisi yang hadir mengisi keseharian mereka, semuanya mengisahkan tentang konsep kebebasan yang sangat luar biasa. Ambil misal, kisah-kisah kartun impor dari Jepang, betapa seorang anak begitu leluasa terhadap guru, orangtua, dan teman sepermainannya.
Kisah-kisah tradisi lisan kita juga kurang menampilkan hal-hal yang bersifat logika, lebih banyak berkisah tentang hal-hal gaib. Hal ini kurang diminati oleh anak-anak sekarang. Di samping itu, gagalnya sastra kita masuk dalam kehidupan anak-anak disebabkan antara lain (1) anak-anak tidak tertarik lagi pada lisan, dampaknya dongeng pun raib, (2) anak-anak lebih tertarik pada audio visual dan mempraktikkan sendiri, akibatnya play-station merebak, (3) guru bukan lagi rusukan absolut, tetapi media informasi dan komunikasi yang menjadi rujukan utama, (4) cerita daerah tidak dikenal lagi, tetapi justru cerita impor yang merasuki pemikiran mereka, (5) hilangnya bahasa puitis dalam proses belajar-mengajar, karena guru kurang menguasai peribahasa, perumpamaan, pepatah, dsb., (6) pelajaran mengarang sudah tidak menjadi perioritas lagi, sehingga murid tidak mampu mengaktualisasikan pemikirannya dalam bentuk tulisan, dan (7) minimnya guru bahasa yang sekaligus mampu menguasai sastra.
Kumpulan Pantun
Pantun Berkasih
Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih hamba lurutkan
Hilang emak hilang saudara
Karena kasih hamba turutkan
Pasir putih di pinggir kali
Pekan menyabung ayam berlaga
Kasih tak boleh dijual beli
Bukannya benda buat berniaga
Petik sayur si daun maman
Makan berulam daun pegaga
Habis tahun berganti zaman
Kasih adinda kunanti jua
Hijau nampaknya Bukit Barisan
Puncak Tanggamus dengan Singgalang
Terbang nyawa dari badan
Kasih di hati takkan hilang
Indra Giri pasirnya lumat
Kerang bercampur dengan lokan
Ibarat Nabi kasihkan umat
Begitu saya kasihkan tuan
Bunga Melati terapung-apung
Bunga rampai di dalam puan
Rindu hati tidak tertanggung
Bilakah dapat berjumpa tuan?
Burung merbuk membuat sarang
Anak enggang meniti di paya
Tembaga buruk di mata orang
Intan berkarang di hati saya
Kalau roboh
Sayang selasih di dalam puan
Kalau sungguh bagai dikata
Rasa nak mati di pangkuan tuan
Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa saya dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Badan nyawa saya serahkan
Anak campuran Cina-Melaka
Pulang ke rumah di Bukit Pekan
Andai kena dengan cara
Nyawa dan badan saya berikan
Anak ruan tidak terluang
Benang sutera di dalam buluh
Hendak buang tidak terbuang
Sudah mesra di dalam tubuh
Tumbuk padi jadikan emping
Buat juadah teman sebaya
Pipit hendak bertenggek ke ranting
Sudikah enggang bertenggek sama?
Kain cindai dilipat-lipat
Lipat mari tepi perigi
Kalau pandai Tuan memikat
Burung terbang menyerah diri
Kiri jalan kanan pun jalan
Sama tengah pokok mengkudu
Kirim jangan pesan pun jangan
Sama-sama menanggung rindu
Pucuk pauh batangnya pauh
Di tengah-tengah pokok mengkudu
Adinda jauh kekanda pun jauh
Sama-sama menanggung rindu
Buah jambu disangka kandis
Kandis ada di dalam cawan
Gula madu disangka manis
Manis lagi senyuman Tuan
Sayang Musalmah pergi ke taman
Hendak memetik sekuntum bunga
Sudah ada dalam genggaman
Bilakah dapat hidup bersama?
Anak haruan berlima-lima
Mati ditimpa ponggor berdaun
Kasih cik adik saya terima
Menjadi utang beribu tahun
Sayang Laksamana mati dibunuh
Mati dibunuh Datuk Menteri
Tuan umpama minyak yang penuh
Sedikit tidak tertumpah lagi
Sayang pelanduk di luar pagar
Mati ditembak patah kakinya
Tujuh tahun gunung terbakar
Baru sekarang nampak apinya
Batang selasih permainan budak
Daun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Harum baunya si bunga Tanjung
Harumnya sampai puncak gunung
Tuan umpama sekaki payung
Hujan panas tempat berlindung
Tajam kapak dari beliung
Hendak menebang kayu berduri
Tuan laksana kemuncak payung
Saya di bawah menyerah diri
Hujan panas turun berderai
Guruh menyambar pohon jati
Kasih sayang tak boleh bercerai
Bagaikan rambut bersimpul mati
Hilir berderap mudik berderap
Patah galah di dalam perahu
Tuan laksana si bunga Dedap
Cantik merah tidak berbau
Orang berhuma di Pulau Balangan
Asap apinya tabun-menabun
Tuan laksana bunga kayangan
Kuntum Kasturi tangkainya embun
Kalau Tuan pergi ke Jambi
Ambil air Cik Tahir jurubatunya
Kalau Tuan hendakkan kami
Bakar air ambil abunya
Beli cempedak dari Juana
Mari dibelah di atas tudung
Jika berhajat menyunting bunga
Jumpa wali di atas gunung
Buah jering di atas para
Diambil budak bawa berlari
Kering laut tanah Melaka
Baru saya mungkirkan janji
Buih kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun dilambung ombak
Tidakku lupa pada yang kasih
Tebang gelam tebang kenanga
Batang tumbang menimpa gadung
Kumbang mengidam nak seri bunga
Bunga kembang di puncak gunung
Limau purut lebat di pangkal
Batang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Hati kasih apa ubatnya?
Layang-layang terbang melayang
Jatuh ke laut disambar jerung
Siapa bilang saya tak sayang?
Kalau bunga rasa nak kendong
Layang layang terbang melayang
Jatuh di laut melayang layang
Siapa bilang saya tak sayang?
Siang malam terbayang bayang
Layang-layang disambar nuri
Madu kelapa dalam tempayan
Lagi tak hilang bukit Puteri
Tidak kulupa kasihmu Tuan
Langit cerah awan membiru
Dinihari embun pun jatuh
Sakit sungguh menanggung rindu
Di dalam air badan berpeluh
Indah nian bulan mengambang
Keliling pula bintang bercahaya
Wajah tuan bila ku pandang
Bagai melihat pintunya syurga
Ikan belanak di tengah muara
Daun suji di dalam puan
Tiada sanak tiada saudara
Kalau sudi terimalah Tuan
Dua tiga kucing berlari
Manakan sama si kucing belang
Dua tiga boleh kucari
Manakan sama abang seorang
Anak beruk di kayu rendang
Turun mandi di dalam paya
Huduh buruk di mata orang
Cantik manis di mata saya
Tinggi tinggi mata hari
Anak kerbau mati tertambat
Sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh beribu batu
Jauh di mata di hati jangan
Surat ku layang untuk berkata
Penyampai hasrat kata di hati
Kalaulah sungguh kasihkan saya
Jangan dibuang sampai ke mati
Kedondong batang sumpitan
Batang padi saya lurutkan
Tujuh gunung sembilan lautan
Kalau tak mati saya turutkan
Burung terbang menarik rotan
Lalu hinggap di kayu Jati
Tujuh gunung tujuh lautan
Belum dapat belum berhenti
Ke Teluk sudah ke Siam sudah
Ke Mekah saja aku yang belum
Kupeluk sudah kucium sudah
Bernikah saja aku yang belum
Di Tanjung Katung airnya biru
Disitulah tempat mencuci mata
Duduk sekampung lagikan rindu
Inikan pula jauh dimata
Laju-laju perahu laju
Lajunya sampai ke Surabaya
Lupa kain lupakan baju
Tetapi jangan lupakan saya
Kalau menyanyi perlahan-lahan
Dibawa angin terdengar jauh
Kalau hati tidak tertahan
Di dalam air badan berpeluh
Bunga Cina jambangan Cina
Bungkus inai dalam kertas
Sungguh saya bena tak bena
Di dalam hati haram tak lepas
Bunga rampai di dalam puan
Buluh perindu di atas gunung
Adakah sampai kepadamu tuan?
Rindu kekanda tidak tertangung
Ayam disabung jantan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di darat ikan di laut
Dalam belanga bertemu jua
Angin Barat dari gunung
Berhembus lembut terlalu nyaman
Baru kelibat adik menyongsong
Kembali segar semangat di badan
Orang mengail ikan cencaru
Dapat ikan bawa ke jeti
Kalau tuan kata begitu
Barulah senang di dalam hati
Ribu-ribu pokok mengkudu
Cincin permata jatuh ke ruang
Kalau rindu sebut namaku
Airmata jangan dibuang
Dari mana punai melayang
Dari sawah turun ke padi
Dari mana datangnya sayang?
Dari mata turun ke hati
Berkurun lama pergi menjauh
Wajah kulihat di dalam mimpi
Kalau dah kasih sesama sungguh
Kering lautan tetap ku nanti
Anak buaya anak memerang
Anak biawak luka kepala
Badan merantau sakit dan senang
Pada adinda sedikit tak lupa
Kukutip bunga buat karangan
Karangan diletak di atas peti
Ingin ku sunting bunga di jambangan
Buat penyeri di taman hati
Sekapur sirih seulas pinang
Ada berkunjung budaya Melayu
Terjunjung kasih tersimpul sayang
Terikat terkurung kasih nan satu
Burung merpati terbang melayang
Singgah sebentar dipohon meranti
Rindu hatiku bukan kepalang
Wajahmu tuan termimpi-mimpi
Malam ini malam Jumaat
Pasang dian kepala titi
Tepuk bantal panggil semangat
Semangat datang di dalam mimpi
Hilang sepi diraut wajah
Usah terlerai nilainya budi
Setia janji takkan berubah
Kasih tersemai tetap abadi
Kalau tidak kelapa puan
Tidak puan kelapa bali
Kalau tidak pada tuan
Tidak tuan siapa lagi?
Pohon sena cabangnya empat
Mari tebang waktu pagi
Kalau kena dengan makrifat
Burung terbang menyerah diri
Gunung tinggi dilitupi awan
Berteduh langit malam dan siang
Bila adik mengirimkan pesan
Hancur seluruh sendi abang
Air pasang limpah ke pasar
Tanam pinang kelapa mati
Di manalah tuan belajar
Pandai mencari isyarat hati?
Tajam tubuh si buah gading
Hendaklah ikat bersama tali
Hancur luluh tulang dan daging
Namun kulupa tidak sekali
Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?
Pikir memikir sama lawak
Jangan dibawa ke Tanjung Jati
Sindir menyindir sesama awak
Jangan dibawa masuk ke hati
Tuan puteri meminta cawan
Untuk diisi air kelapa
Amat tulus kasihmu Tuan
Sampai ke mati adinda tak lupa
Pantun Budi
Dari Daik pulang ke Daik
Sehari-hari berkebun pisang
Budi baik dibalas baik
Dalam hati dikenang orang
Tanam lenggun tumbuh kelapa
Terbit bunga pucuk mati
Budi tuan saya tak lupa
Sudah terpaku di dalam hati
Tenang-tenang air laut
Sampan kolek mudik ke tanjung
Hati terkenang mulut menyebut
Budi baik rasa nak junjung
Kapal belayar dari Arakan
Ambil gaji jadi jemudi
Mati ikan karena umpan
Mati saya karena budi
Banyak ubi perkara ubi
Ubi keledek ditanam orang
Banyak budi perkara budi
Budi baik dikenang orang
Lipat kain lipat baju
Lipat kertas dalam puan
Dari air menjadi batu
Sedikit tak lupa budi tuan
Jentayu burung jentayu
Hinggap di balik pokok mayang
Bunga kembang akan layu
Budi baik bilakan hilang
Jika belayar ke tanah Aceh
Singgah dulu di kota Deli
Jika hendak orang mengasih
Hendaklah baik bicara budi
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi
Dewa sakti melayang ke Daik
Hendak mencari Dewa Jaruga
Kalau ada budi yang baik
Sampai ke mati orang tak lupa
Baik-baik bertanam padi
Jangan sampai dimakan rusa
Baik-baik termakan budi
Jangan sampai badan binasa
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi darjat karena bahasa
Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik di kenang juga
Pergi ke sawah menanam padi
Singgah disungai menangkap ikan
Hidup hendaklah bersendikan budi
Sifat sombong jangan amalkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi
Pisang emas dibawa belayar
Masak sebiji di atas peti
Utang emas boleh dibayar
Utang budi dibayar mati
Anak merak Kampung Cina
Singgah berhenti kepala titi
Emas perak kebesaran dunia
Budi bahasa tak dapat dicari
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
Yang kurik tu kundi
Yang merah saga
Yang baik itu budi
Yang indah itu bahasa
Limau manis dimakan manis
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Manis sekali hati budinya
Cuaca gelap semakin redup
Masakan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup
Barulah kekal dihormati orang
Tuan Puteri membeli ginseng
Singgah di pasar mencari kari
Jangan ikut budaya samseng
Kelak menyesal di kemudian hari
Pantun Nasihat
Angin teluk menyisir pantai
Hanyut rumpai di bawah titi
Biarlah buruk kain dipakai
Asal pandai mengambil hati
Pergi mendaki Gunung Daik
Hendak menjerat kancil dan rusa
Bergotong-royong amalan yang baik
Elok diamalkan setiap masa
Air melurut ke tepian mandi
Kembang berseri bunga senduduk
Elok diturut resmi padi
Semakin berisi semakin tunduk
Daun sirih ulam Cik Da
Makan sekapur lalu mati
Walaupun banyak ilmu di dada
Biar merunduk resmi padi
Buah pelaga makan dikikir
Dibawa orang dari hulu
Sebarang kerja hendak dipikir
Supaya jangan mendapat malu
Kemumu di tengah pekan
Dihembus angin jatuh ke bawah
Ilmu yang tidak diamalkan
Bagai pohon tidak berbuah
Tumbuh melata si pokok tebu
Pergi pasar membeli daging
Banyak harta tak ada ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
Tulis surat di dalam gelap
Ayatnya banyak yang tidak kena
Jagalah diri jangan tersilap
Jikalau silap awak yang bencana
Hendak belayar ke Teluk Betong
Sambil mencuba labuhkan pukat
Bulat air karena pembetung
Bulat manusia karena muafakat
Pakai baju warna biru
Pergi ke sekolah pukul satu
Murid sentiasa hormatkan guru
Karena guru pembekal ilmu
Lagu bernama serampang laut
Ditiup angin dari Selatan
Layar dikembang kemudi dipaut
Kalau tak laju binasa badan
Padi segemal kepuk di hulu
Sirih di hilir merekap junjungan
Kepalang duduk menuntut ilmu
Pasir sebutir jadikan intan.
Anak-anak berkejar-kejar
Rasa gembira bermain di sana
Kalau kita rajin belajar
Tentu kita akan berjaya
Jangan pergi mandi di lombong
Emak dan kakak sedang mencuci
Jangan suka bercakap bohong
Semua kawan akan membenci
Buah cempedak bentuknya bujur
Sangat disukai oleh semua
Jika kita bersikap jujur
Hidup kita dipandang mulia
Jikalau tuan mengangkat peti
Tolong masukkan segala barang
Jikalau anak-anak bersatu hati
Kerja yang susah menjadi senang
Asam kandis mari dihiris
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Lebih manis hati budinya
Kayu bakar dibuat arang
Arang dibakar memanaskan diri
Jangan mudah menyalahkan orang
Cermin muka lihat sendiri
Selasih tumbuh di tepi telaga
Selasih dimakan si anak kuda
Kasih ibu membaa ke syurga
Kasih saudara masa berada
Masuk hutan pakai sepatu
Takut kena gigitan pacat
Kalau kita selalu bersatu
Apa kerja mudah dibuat
Bandar baru Seberang Perai
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan tulang berkecai
Budi yang baik dikenang juga
Encik Dollah pergi ka Jambi
Pergi pagi kembali petang
Kalau Tuhan hendak membagi
Pintu berkancing rezeki datang
Orang haji dari Jeddah
Buah kurma berlambak-lambak
Pekerjaan guru bukanlah mudah
Bagai kerja menolak ombak
Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah
Terang bulan di malam sepi
Cahya memancar kepangkal kelapa
Hidup di dunia buatlah bakti
Kepada ibu dan juga bapa
Kapal kecil jangan dibelok
Kalau dibelok patah tiangnya
Budak kecil jangan di peluk
Kalau dipeluk patah tulangnya
Asal kapas menjadi benang
Dari benang dibuat kain
Barang yang lepas jangan dikenang
Sudah menjadi hak orang lain
Tengahari pergi mengail
Dapat seekor ikan tenggiri
Jangan amalkan sikap bakhil
Akan merosak diri sendiri
Kapal Anjiman disangka hantu
Nampak dari Kuala Acheh
Rosak iman karena nafsu
Rosak hati karena kasih
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi darjat karena bahasa
Anak Siti anak yang manja
Suka berjalan di atas titi
Orang yang malas hendak bekerja
Pasti menyesal satu hari nanti
Bintang tujuh sinar berseri
Bulan purnama datang menerpa
Ajaran guru hendak ditaati
Mana yang dapat jangan dilupa
Parang tajam tidak berhulu
Buat menetak si pokok Ru
Bila belajar tekun selalu
Jangan ingkar nasihat guru
Hari malam gelap-gelita
Pasang lilin jalan ke taman
Sopan santun budaya kita
Jadi kebanggaan zaman berzaman
Pergi berburu sampai ke sempadan
Dapat Kancil badan berjalur
Biar carik baju di badan
Asalkan hati bersih dan jujur
Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik di kenang juga
Ramai orang membeli jamu
Di bawah pokok cuaca redup
Bersungguh-sungguh mencari ilmu
Ilmu dicari penyuluh hidup
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Buah cempedak diluar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya budak baru belajar
Kalau salah tolong tunjukkan
Pisang emas dibawa belayar
Masak sebiji di atas peti
Utang emas boleh dibayar
Utang budi dibawa mati
Dalam semak ada duri
Ayam kuning buat sarang
Orang tamak selalu rugi
Macam anjing dengan bayang
Baik-baik mengirai padi
Takut mercik ke muka orang
Biar pandai menjaga diri
Takut nanti diejek orang
Ke hulu membuat pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Supaya jangan sesal kemudian
Mari kita tanam halia
Ambil sedikit buat juadah
Usia muda jangan disia
Nanti tua sesal tak sudah
Padi muda jangan dilurut
Kalau dilurut pecah batang
Hati muda jangan diturut
Kalau diturut salah datang
Cuaca gelap semakin redup
Masakan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup
Barulah kekal dihormati orang
Orang Daik memacu kuda
Kuda dipacu deras sekali
Buat baik berpada-pada
Buat jahat jangan sekali
Dayung perahu tuju haluan
Membawa rokok bersama rempah
Kalau ilmu tidak diamalkan
Ibarat pokok tidak berbuah
Kalau kita menebang jati
Biar serpih tumbangnya jangan
Kalau kita mencari ganti
Biar lebih kurang jangan
Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah
Pantai Mersing kuala Johor
Pantainya bersih sangat mashyur
Pohonkan doa kita bersyukur
Negara kita aman dan makmur
Orang tua patut disegani
Boleh mendapat ajarnasihat
Ular yang bisa tidak begini
Bisa lagi lidah yang jahat
Ramai orang menggali perigi
Ambil buluh lalu diikat
Ilmu dicari tak akan rugi
Buat bekalan dunia akhirat
Tuan Haji memakai jubah
Singgah sembahyang di tepi lorong
Kalau sudah kehendak Allah
Rezeki segenggam jadi sekarung
Patah gading serpih tanduk
Mari diletak di atas papan
Jika tahu ganja itu mabuk
Buat apakah ia dimakan
Anak rusa masuk ke taman
Puas sudah orang memburu
Kalau muda jadikan teman
Kalau tua jadikan guru
Berakit ke hulu dengan bergalah
Buluh pecah terbelahdua
Orang tua jangan dilangkah
Kelak biadap dituduhnya pula
Rusa betina berbelang kaki
Mati terkena jerat sembat
Orang yang muda kita sanjungi
Orang yang tua kita hormat
Sorong papan tarik papan
Buah keranji dalam perahu
Suruh makan awak makan
Suruh mengaji awak tak mahu
Adik ke kedai membeli halia
Emak memesan membeli laksa
Jadilah insan berhati mulia
Baik hati berbudi bahasa
Pantun Kekecewaan
Pisau raut hilang di rimba
Pakaian anak raja di Juddah
Karam di laut boleh ditimba
Karam di hati bilakah sudah?
Buah berangan masaknya merah
Kelekati dalam perahu
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa tahu?
Banyaklah orang menanam pulut
Saya seorang menanam padi
Banyaklah orang karam di laut
Saya seorang karam di hati
Anak punai anak merbah
Hinggap ditonggak mencari sarang
Anak sungai lagikan berubah
Inikan pula hati orang
Apa diharap padi seberang
Entahkan jadi entahkan tidak
Apa diharap kasihnya orang
Entahkan jadi entahkan tidak
Entahkan jadi entahkan tidak
Entah dimakan pipit melayang
Entahkan jadi entahkan tidak
Entah sudahkan milik orang
Cahaya bulan diliput awan
Dipuput bayu awan berlalu
Hasrat hatiku padamu tuan
Dari Arab turun ke Aceh
Naik ke Jawa berkebun serai
Apa diharap pada yang kasih
Badan dan nyawa lagi bercerai
Selasih di Teluk Dalam
Datang kapas Lubuk Tempurung
Saya umpama si burung balam
Mata terlepas badan terkurung
Chau Pandan, anak Bubunnya
Hendak menyerang
Ada cincin berisi bunga
Bunga berladung si air mata
Anak buaya terenang-renang
Anak kunci dalam perahu
Hanya saya terkenang-kenang
Orang benci saya tak tahu
Masuk hutan berburu musang
Musang mati dijerat orang
Macam mana hati tak bimbang
Ayam di sangkar disambar helang
Sakit menebang kayu berlubang
Kayu hidup dimakan api
Sakit menumpang kasih orang
Daripada hidup baiklah mati
Asal kapas menjadi benang
Dari benang dibuat kain
Barang lepas usah dikenang
Sudah menjadi hak yang lain
Apa guna pasang pelita
Jika tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain mata
Kalau tidak dengan sungguhnya
Biji saga nampaklah merah
Bawa segenggam pergi ke
Hati kecewa amatlah parah
Tidur bertilam si air mata
Dari Jawa ke Bengkahulu
Membeli keris di Inderagiri
Kawan ketawa ramai selalu
Kawan menangis seorang diri
Kusangka nanas di tengah
Rupanya pandan yang berduri
Kusangka panas hingga ke petang
Rupanya hujan di tengah hari
Akar nibung meresap-resap
Akar mati dalam perahu
Terbakar kampung nampak berasap
Terbakar hati siapa yang tahu
Orang Aceh sedang sembahyang
Hari Jumaat tengah hari
Pergilah kasih pergilah sayang
Pandai-pandailah menjaga diri
Seri Mersing lagulah lama
Lagu dikarang biduan dahulu
Hatiku runsing gundah gulana
Dimana tempat hendak mengadu?
Sri Mersing lagulah melayu
Dikaranglah oleh biduan dahulu
Hatiku runsing bertambah pilu
Mengenangkan nasib yatim piatu
Apa diharap kepada tudung
Tudung saji terendak Bentan
Apa diharap kepada untung
Untung nasib permintaan badan
Penatlah saya menanam padi
Nenas juga ditanam orang
Penatlah saya menanam budi
Emas juga dipandang orang
Sirih kuning di batang pauh
Sayang beluluk beruang-ruang
Putih kuning carilah jodoh
Saya buruk biar terbuang
Padi jangan dicampur antah
Melukut tinggal sekam melayang
Hatiku jangan diberi patah
Meskipun saya dagang terbuang
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat di dunia memang begitu
Benda buruk tidak dipandang
Payang retak tali bersimpul
Kendi lokan airnya tumpah
Hidup tidak karena kaul
Mati bukan karena sumpah
Anak ayam turun satu
Mati seekor habis hilang
Tiada untung modal tak tentu
Perahu tersadai di atas galang
Pukul gendang tiup nafiri
Anak Keling mandi minyak
Saya umpama rumput di bumi
Rendah sekali pada yang banyak
Orang Jawa pulang ke Jawa
Membawa pulang tiang bersambung
Badan terletak putuslah nyawa
Nyawa tidak dapat dihubung
Buah nenas lambung-lambungan
Hendak kubawa perahunya sempit
Tinggal emas tinggal junjungan
Pecah belah batu di gunung
Seri dewa berjalan malam
Ya Allah, tidak tertanggung
Rasa tidak dikandung alam
Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan menderita
Tidak salah ibu mengandung
Salahnya badan buruk pinta
Kalau begini tarah papan
Ke barat juga
Kalau begini untung badan
Melarat juga kesudahannya
Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?
Nyiur muda luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita dibawah kehendak Allah
Tuan puteri tersadung batu
Ambil ubat di atas para
Alangkah sedih cinta tak restu
Jiwa merana hati sengsara
Pantun Teka-Teki
Kalau Tuan pergi ke kedai
Belikan saya buah keranji
Kalau tuan bijak pandai
Apa binatang keris di kaki?
Jawaban 1 : Ayam
Bentuknya bulat daripada besi
Bila bermain diikat sekuat hati
Dilempar hidup dipegang mati?
Jawaban 2: Gasing
Buah budi bedara mengkal
Masak sebiji di tepi pantai
Hilang budi bicara akal
Buah apa tidak bertangkai?
Jawaban 3: Buah Melaka
Burung nuri burung dara
Terbang ke sisi taman kayangan
Cubalah teka wahai saudara
Semakin diisi makin ringan?
Jawaban 4 : Belon
Bunga orkid indah warnanya
Penyeri taman dan juga hutan
Ramai orang datang bertanya
Bintang apa hidup di lautan?
Jawaban 5 : Tapak Sulaiman
Pak Pung Pak Mustafa
Encik Dollah dirumahnya
Gula Melaka jadi intinya
Jawaban 6 : Buah Melaka
Kelip-kelip kusangka api
Kalau api mana asapnya?
Hilang ghaib disangkakan mati
Kalau mati mana kuburnya?
Jawaban 7 : Kilat
Anak-anak bermain batu
Batu dikira satu persatu
Badannya lurus bermata satu
Ekornya tajam apakah itu?
Jawaban 8: Jarum
Jika tuan membeli tikar
Tikar anyaman dari mengkuang
Kalau Tuan bijak pintar
Ular apa membelit pinggang?
Jawaban 9: Tali Pinggang
Masak tumis sambal petai
Makan kenyang sambil sendawa
Anda menziarah sahabat handai
Buah apakah yang akan dibawa?
Jawaban 10: Buah Tangan
Pokoknya bulat dan juga rendang
Masam dan hijau ketika muda
Buahnya berbentuk seperti bintang
Sudah masak, kuninglah ia
Jawaban 11: Belimbing
Belayar perahu dari Bentan
Menyusur tepi Selat Melaka
Lebar kepala dari badan
Apakah ikan cubalah teka?
Jawaban 12: Ikan Pari
Mak Minah menanak minyak
Kemenyan dibakar dengan setanggi
Dua peha beranak banyak
Untuk mendaki tempat yang tinggi?
Jawaban 13: Tangga
Orang bekerja diberikan upah
Hidangan disaji dalam talam
Gajah putih ditengah rumah
Layar terkembang di waktu malam?
Jawaban 14; Kelambu
Gigi berduri tatah bersigai
Pembelah kayu ia berguna
Jika tuan orang yang pandai
Benda apakah makannya dua cara?
Jawaban 15: Gergaji
Jika ke kedai pergi berbelanja
Belikan saya sudu dan senduk
Jika pandai katakan ia
Semakin berisi semakin menunduk?
Jawaban 16: Padi
Kalau tuan pakai lencana
Pakailah songkok di atas kepala
Kalau Tuan bijak laksana
Binatang apakah tiada kepala?
Jawaban 17: Ketam
Pisau lipat dimainnya kera
Tangannya luka lalu terjun
Makan kuat tidak terkira
Kenyangnya tidak tahi bertimbun?
Jawaban 18: Api
Minah ketawa terjerit-jerit
Melihat koyak pada seluar
Orang putih duduk sederet
Pagar didalam tebing diluar?
Jawaban 19: Gigi
Tuan puteri belajar menari
Tari diajar oleh Pak Harun
Kalau Tuan bijak bestari
Apa yang naik tak pernah turun?
Jawaban 20: Umur
Teka-Teki dan Jawaban
Soalan:
Ulat daun tidur berembun
Di pohon kelapa setiap masa
Banyak daun perkara daun
Daun apakah dahan tiada?
Jawaban:
Banyak orang pergi ke dusun
Dusun kaya dengan buah-buahan
Banyak daun perkara daun
Daun terup tidak berdahan
—————————
Soalan:
Ada satu teka-teki
Pada tuan saya bilang bagi
Kalau tuan bijak sekali
Apa binatang tiada kaki?
Jawaban:
Jangan pikir aku anak-anak
Aku tahu kamu punya cabar
Di tengah padang terlengkak-lengkak
Yang tiada kaki binatang ular
———————————
Soalan:
Cendawan bulat di tepi paya
Bawa orang dari hulu
Banyak heran di hati saya
Kecil dia segan, besar dia tak malu?
Jawaban:
Bawa orang dari hulu
Cendawan bulat tepi paya
Kecil segan, besar tak malu
Itulah nama kuntum bunga.
Pantun Berkias
Anak tiung atas rambutan
Berbunyi bertongkat paruh
Berhenti kapal di lautan
Tiba angin berlayar jauh
Bukit Tinggi boleh didaki
Lurah dalam berkala-kala
Penat kaki boleh berhenti
Berat beban siapa membawa
Kampung Tengah kotanya landai
Permatang guntung ketinggian
Jangan lengah janjikan sampai
Untung-untung berkejadian
Pantun Jenaka
Lebuhraya
Tempat temasya dara teruna
Hodohnya ketawa orang tak bergigi
Ibarat
Api terang banyak kelkatu
Masuk ke kamar bersesak-sesak
Alangkah geli rasa hatiku
Melihat nenek bergincu berbedak
Ditiup angin bunga semalu
Kuncup daun bila berlaga
Bercakap Melayu kononnya malu
Belacan setongkol dibedal juga
Orang Rengat menanam betik
Betik disiram air berlinang
Hilang semangat penghulu itik
Melihat ayam lumba berenang
Tanam jerangau di bukit tinggi
Mati dipijak anak badak
Melihat sang bangau sakit gigi
Gelak terbahak penghulu katak
Singapura dilanggar todak
Kapal karam di Tanjung Peringin
Orang tua beristerikan budak
Macam beruk mendapat cermin
Bapa gergasi menebar jala
Pegang tali melintuk-liuk
Masakan pengerusi tak garu kepala
Melihat ahli semua mengantuk
Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gementar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat
Buah salak di rumah Tok Imam
Sirih sekapur pergi menjala
Anjing menyalak harimau demam
Kucing di dapur pening kepala
Anak cina menggali cacing
Mari diisi dalam tempurung
Penjual sendiri tak kenal dacing
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang
Anak
Duduk mengeluh panglima helang
Melihat ayam bercengkang keris
Buah jering dari Jawa
Naik sigai ke atas atap
Ikan kering lagi ketawa
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa
Tempat datuk tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat datuk bermain gundu
Ceduk air di dalam perigi
Timbanya bertangkaikan suasa
Jikalau kucing tak bergigi
Alamat tikus berjoget berdansa
Anak dara Datuk Tinggi
Buat gulai ikan tilan
Datuk tua tak ada gigi
Bila makan kunyah telan
Berderak-derak sangkutan dacing
Bagaikan putus diimpit lumpang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus bawa senapang
Pokok pinang patanya condong
Dipukul ribut berhari-hari
Kucing berenang tikus berdayung
Ikan di laut berdiam diri
Tanam pinang di atas kubur
Tanam bayam jauh ke tepi
Walaupun musang sedang tidur
Mengira ayam di dalam mimpi
Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata
Orang menganyam sambil duduk
Kalau sudah bawa ke balai
Melihat ayam memakai tanduk
Datang musang meminta damai
Hilir lorong mudik lorong
Bertongkat batang temberau
Bukan saya berkata bohong
Katak memikul paha kerbau
Di kedai Yahya berjual
Di kedai kami berjual sisir
Sang buaya melompat ke darat
Melihat kambing terjun ke air
Jikalau lengang dalam negeri
Marilah kita pergi ke
Heran tercengang kucing berdiri
Melihat tikus naik kereta
Senangis letak di timbangan
Pemulut kumbang pagi-pagi
Menangis katak di kubangan
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola
Beli pangkur dua-dua
Mendengar kucing berbiola
Duduk termenung tikus tua
Punggur berdaun di atas
Jarak sejengkal dua jari
Musang rabun, helang pun buta
Baru ayam suka hati
Ketika perang dinegeri Jerman
Ramai askarnya mati mengamuk
Rangup gunung dikunyah kuman
Lautan kering dihirup nyamuk
Jual betik dengan kandil
Kandil buatan orang Inggeris
Melihat buaya menyandang bedil
Lembu dan kerbau tegak berbaris
Jemur bijan dengan kulitnya
Jemur di atas pohon lembayung
Hari hujan sangat lebatnya
Lamun Si Pandir mengepit payung
Elok rupa pohon belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Walau marah ketawa juga
Rumah besar berdinding tidak
Beratapkan daun palas
Badan besar beristeri tidak
Itu tandanya orang pemalas
Adik nama Comat
Suka beri salam
Budak ketawa kuat
Suka kecing malam
Dari Ambun hendak ke Perak
Singgah di Jeram Mengkuang
Si Awang Kenit mencuri kerak
Hidung berbelang terpalit arang
Biduk lalu kiambang bertaut
Nakhoda Kasap duduk termenung
Gila latah ikan di laut
Melihat umpan di kaki gunung
Pakai seluar labuh ke bawah
Ikut permatang jalan melenggang
Nampak zahir memang mewah
Tapi utang keliling pinggang
Orang Sibu menunggang kuda
Kuda ditunggang patah pinggang
Masih mahu mengaku muda
Padahal cucu keliling pinggang
Tahankan jerat gunakan tali
Pacak kuat biar melekap
Kalau bini suka membeli
Utang berbaris suami ke lokap
Tuan puteri memasang panjut
Dayang tolong menghalau lalat
Kucing tidur bangkit terkejut
Melihat tikus pandai bersilat
Pantun Kanak-Kanak
Anak rusa nani
Baru kembang ekor
Apa dosa kami
Lalu tidak tegur
Buai laju-laju
Sampai puncak sana
Apa dalam baju?
Sekuntum bunga Cina
Timang tinggi-tinggi
Sampai cucur atap
Belum tumbuh gigi
Pandai baca kitab
Ayam kedek-kedek
Beri makan padi
Abang sayang adik
Mesti ajar mengaji
Burung kenek-kenek
Hinggap bawah batang
Apa pesan nenek
Cepat-cepat pulang
Pok amai-amai
Belalang kupu-kupu
Bertepuk adik pandai
Malam nanti upah susu
Susu lemak manis
Santan kelapa muda
Adik jangan menangis
Emak banyak kerja
Air pasang pagi
Surut pukul lima
Bangun pagi-pagi
Siram pokok bunga
Pokok bunga melur
Tanam tepi batas
Itik dah bertelur
Ayam dah menetas
Lompat si katak lompat
Lompat dalam perigi
Cepat adik cepat
Pergi mandi cuci gigi
Lompat si katak lompat
Lompat di tepi pagar
Sekolah lekas dapat
Dan mesti rajin belajar
Lompat si katak lompat
Lompat di air tenang
Pergi sekolah cermat
Emak bapa hati senang
Lompat si katak lompat
Lompat di rumput muda
Belajar kuat-kuat
Buat ilmu hari tua
Anak lembu merah
Tambat di pokok asam
Adik kena marah
Tarik muka masam
Burung Kakak Tua
Hinggap di jendela
Nenek sudah tua
Giginya tingal dua
Burung Kakak Tua
Ada anak empat
Nenek sudah tua
Jalan pakai tongkat
Burung Kakak Tua
Bersarang celah batu
Badan sudah tua
Gigi jarang sana satu
Durian atas titi
Pisang dalam dulang
Sukanya rasa hati
Abang sudah pulang
Anak kumbang jati
Suka korek tiang
Senang rasa hati
Emak sudah pulang
Geylang si paku Geylang
Geylang si rama-rama
Pulang marilah pulang
Marilah pulang bersama-sama
Ayun anak ayun
Ayun hujung serambi
Bangun adik bangun
Jangan tidur tinggi hari
Oh bulan mana bintang?
Atas puncak kayu ara
Oh tuan mana hilang?
Dalam dapur atas para
Buai kaduk-kaduk
Kaduk naik ke rimba
Panjang janggut datuk
Buat tali timba
Pantun Minangkabau
Keratau madang di hulu
Berbuah berbunga belum
Merantau bujang dahulu
Di rumah berguna belum
Ke pekan sekali ini
Entah membeli entah tidak
Entah membeli limau kapas
Berjalan sekali ini
Entah kembali entah tidak
Entah menghadang lautan lepas
Putuslah tali laying-layang
Robek kertas tentang bingkai
Hidup usah mengepalang
Tidak kaya, berani pakai
(Dt Panduko Alam, Payakumbuh)
Pantun Adat
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pesaka
Gadis Acheh berhati gundah
Menanti teruna menghulur tepak
Gula manis sirih menyembah
Adat dijunjung dipinggir tidak
Manis sungguh gula Melaka
Jangan dibancuh dibuat serbat
Sungguh teguh adat pusaka
Biar mati anak jangan mati adat
Anak teruna tiba di darat
Dari Makasar langsung ke Deli
Hidup di dunia biar beradat
Bahasa tidak dijual beli
Menanam kelapa di Pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitab Allah
Buah berangan di rumpun pinang
Limau kasturi berdaun muda
Kalau berkenan masuklah meminang
Tanda diri beradat budaya
Laksamana berbaju besi
Masuk ke hutan melanda-landa
Hidup berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis dimakan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Ikan berenang di dalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Pokok pinang ditanam rapat
Puyuh kini berlari-lari
Samalah kita menjunjung adat
Tunggak budaya semai dihati
Bukan kacang sebarang kacang
Kacang melilit si kayu jati
Bukan datang sebarang datang
Datang membawa hajat di hati
Anak-anak berlari ke padang
Luka kaki terpijak duri
Berapa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi harapan kami
Helang berbega Si Rajawali
Turun menyambar anak merbah
Dari jauh menjunjung duli
Sudah dekat lalu menyembah
Angin kencang turunlah badai
Seumur hidup cuma sekali
Tunduk kepala jatuh ke lantai
Jari sepuluh menjunjung duli
Gobek cantik gobek cik puan
Sirih dikunyah menjadi sepah
Tabik encik tabiklah tuan
Kami datang membawa sembah
Doa mustajab selalu terkabul
Kepada Allah kita panjatkan
Sebelum berlangsung ijab dan
Majlis berinai kita dulukan
Pantun Patriotik
Langkah sumbang sindirkan lantai,
Binasa badan bicara tak kawal,
Pinggirkan ketuanan negara tergadai,
Hilang maruah bangsa terjual.
Tanah ini Tanah Melayu,
Pedagang datang ingin berniaga,
Serahkan budi bukan tanahmu,
Pertahankan negara, pertahankan hak bangsa.
Pergi ke kedai tergesa-gesa
Hendak membeli gula Melaka
Malaysia maju rakyat sentosa
Negara aman bebas merdeka
Sesak sungguh di kaki
Penat berjalan sakitlah peha
Malaysia Boleh slogan bersama
Asalkan ada daya usaha
Terketar-ketar si penjual roti
Hendak seberang sebatang titi
Berbudi bahasa hormat menghormati
Jadilah warga elok pekerti
Pakai TMNEt jalur lebar
Yuran mahal tak sia-sia
Jalur Gemilang megah berkibar
Simbol perpaduan rakyat
Dapur kotor mahu disental
Habis tertumpah kuah laksa
Jatidiri hendaklah kental
Semangat waja membangunkan bangsa
Bahasa Melayu ejaan rumi
Mula belajar di rumah lagi
Agama Islam agama rasmi
Rukunegara wajib patuhi
Masuk hutan menembak rusa
Nikmat rezeki Tuhan kurnia
Marilah bersama membuat jasa
Pantun Jalur Gemilang
Jalur Gemilang bendera bertuah
Rakyat
Hidup bahagia tiada resah
Karena negara merdeka sudah
Jalur Gemilang lambang bersatu
Merah, kuning, putih dan biru
Bulan bintang menghiasi penjuru
Empat belas negeri menjadi padu
Di merata tempat megah berkibaran
Lambang demokrasi dan kemerdekaan
Penuh kedaulatan dan kebebasan
Seiring dengan semangat perpaduan
Putih dan merah suci berani
Menyeru rakyat membangunkan negeri
Menentang musuh yg hasad dengki
Mempertahankan negara setiap inci
Pelbagai bangsa berlainan bahasa
Jalur gemilang menyatukan semua
Teguh, bersatu dan bekerjasama
Tanda sepakat aman sentosa.
Pantun Peribahasa
Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian
Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul
Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan
Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan
Pantun Berkasih ( Pantun 8 Kerat)
Pasir bulan perahu
Berlabuh tentang batu bara
Bergalah-galah ke tepian
Ketika menghadapi muaranya
Kasih tuan hambalah tahu
Ibarat orang menggenggam bara
Terus hangat dilepaskan
Begitu tuan malah kiranya
Pantun Perpisahan
Tuai padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intai kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan
Kalau ada sumur di ladang
Boleh saya menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Boleh kita berjumpa lagi
Hari ini menanam jagung
Hari esok menanam serai
Hari ini kita berkampung
Hari esok kita bersurai
Malam ini menanam jagung
Malam esok menanam serai
Malam ini kita berkampung
Malam esok kita bercerai
Hari ini menugal jagung
Hari esok menugal jelai
Hari ini kita berkampung
Hari esok kita bercerai
Batang selasih permainan budak
Berdaun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Orang Aceh sedang sembahyang
Hari Jumaat tengah hari
Pergilah kasih pergilah sayang
Pandai-pandailah menjaga diri
Mana Manggung, mana Periaman
Mana batu kiliran taji
Tinggal kampung tinggal halaman
Tinggal tepian tempat mandi
Bintang Barat terbit petang
Bintang Timur terbit pagi
Jika tidak melarat panjang
Dari mana hendak ke mana
Tinggi ruput dari padi
Tahun mana bulan mana
Dapat kita berjumpa lagi?
Dian tiga lilin pun tiga
Tanglung tergantung rumah laksamana
Diam juga sabar pun juga
Tuan puteri pergi ke Rasah
Pulang semula sebelah pagi
Kita bertemu akhirnya berpisah
Diizin Tuhan bersua lagi
Pantun Kepahlawan
Apa guna kepuk di ladang
Kalau tidak berisi padi
Apa guna berambut panjang
Kalau tidak berani mati
Guruh berdentum bumi bergegar
Ayam jaguh sedang bersabung
Jangan cakap sahaja berdegar
Hulur senjata kita bertarung
Limau bentan di tepi tingkap
Anak-anak melempar burung
Harimau di hutan lagi kutangkap
Inikan pula cicak mengkarung
Pudak bukan sebarang pudak
Pudak tumbuh di tepi lombong
Jalak buka sebarang jalak
Jalak biasa menang bersabung
Anak Cina bersampan kotak
Muatan sarat dengan ragi
Biar retak bumi kupijak
Kamu takkan kulepaskan lagi
Hang Jebat Hang Kasturi
Anak-anak raja Melaka
Jika hendak jangan dicuri
Mari kita bertentang mata
Patah rotan tali bersilang
Batang meranti rimbun berjejal
Langkah pahlawan di tengah gelanggang
Berpantang mati sebelum ajal
Banyak batang tumbuh cendawan
Cendawan kukur jalan ke huma
Banyak orang mengaku pahlawan
Sambutlah pukul tikam pertama
Putus sudah tali temberang
Semasa belayar di sampan kotak
Jangan berlagak jaguh yang garang
Kepala sendiri nanti yang retak
Apa guna padi bukit
Padi dibendang menabur bunga
Apa guna hati sakit
Mati bertikam termasyhur lama
Tebu bukannya bangkut
Rama-rama terbang ke kuala
Bukan kami kaki penakut
Berani kami korbankan nyawa
Memang pahit buah peria
Makanan orang pergi menjala
Jikalau mengaku taat setia
Bersamalah kita pertahan negara
Cik Embun orang berbidan
Pandai mengurut sakit kepala
Biar berkalang nyawa di badan
Kedaulatan negara kupertahankan jua
Kalau mengail di lubuk dangkal
Dapat ikan sepenuh raga
Kalau kail panjang sejengkal
Jangan lautan hendak diduga
Apa guna kepuk di ladang
Kalau tidak berisi padi
Apa guna keris di pinggang
Kalau tidak berani mati
Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah bisai tahu takut
Kami pun muda lagi perkasa
Sampan kotak mengapa dikayuh
Hendak belayar ke tanah seberang
Patah kepak bertongkatkan paruh
Pantang menyerah di tengah gelanggang
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belumlah teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belumlah sembuh
Lemaknya nasi bergulai udang
Lemak berbau santan kelapa
Rela kumati berputih tulang
Tidak kumahu berputih mata
Orang menyeberang gunakan titi
Titi dibuat tinggi di atas
Dalam telur lagikan dinanti
Inikan pula sudah menetas
Jika terjumpa ular tedung
Carilah buluh kayu pemukul
Berani buat beranilah tanggung
Tangan menjinjing bahu memikul
Perahu payang layarnya merah
Belayar menuju arah utara
Keris dipegang bersintukkan darah
Adat pahlawan membela negara
Sungguh cantik bunga yang merah
Malangnya lama tidak disirami
Kalau jasadku rebah ke tanah
Rela aku disemadikan di sini
Telur itik dari Senggora
Pandan terletak dilangkahi
Darahnya titik di Singapura
Badannya terhantar di Langkawi
Tuan puteri pergi ke Lukut
Bawa pulang kacang panjang
Sedikit pun hamba tak takut
Kalau berani turun gelanggang
Pantun Sireh Pinang ~ Ahmad Sarju
Seiring madah pantun bersambut
dalam senyum penghidang tamu
mesra berdakap kasih terpaut
persilakan tamu sambut di pintu
Sambut salam sambut bersopan
jenguk-menjenguk ajuk-mengajuk
baru kami menyebut tuan
air didih belumlah sejuk
Dimulakan hajat setinggi gunung
dimulakan dengan pantun pusaka
sehalus rambut sejernih kaca
tersisip makna dalam nan agung
Dijunjung datang disambut hajat
dulang berukir tepak peminangan
persudikan santap sirih beradat
pusaka bangsa zaman berzaman
Kini jejaka rindu seharian
gadis di bilik sendiri kesepian
Menunggu menimang ingatan kasih
malam merayu ke bulan jernih
Ah! Semusim cuma yang dinanti
gunung dikejar kemanakan lari?
~ Ahmad Sarju
Pantun Azah Aziz
Kalau tuan pergi ke bendang,
Jangan petik buah rembia,
Tuan umpama bulan mengambang,
Cahaya meliput serata dunia.
Burung merpati kepak bersilang,
Turun ke bendang makan pagi,
Simpan di peti takutkan hilang,
Baik disimpan di dalam hati.
Kalau ya selasih dandi,
Cendawan tumbuh di atas pintu,
Kalau ya kasihkan kami,
Guntingkan kami sehelai baju.
Melepuh kakiku terkena tunggul,
Tunggul besar di tengah
Gelusuh hatiku melihat sanggul,
Sanggul besar berbunga goyang.
Pantun Klasik Melayu
Anak tiung atas rambutan
Berbunyi bertongkat paruh
Berhenti kapal di lautan
Tiba angin berlayar jauh
Bukit Tinggi boleh didaki
Lurah dalam berkala-kala
Penat kaki boleh berhenti
Berat beban siapa membawa
Kampung Tengah kotanya landai
Permatang guntung ketinggian
Jangan lengah janjikan sampai
Untung-untung berkejadian
Pantun Seloka
Huruf A, B, dan C
Jambu atas batu
Kenapa tidak kasi
Sombong macam hantu
Undang-undang papan
Surat dalam buluh
Tunang ada lapan
Gundik tujuh puluh
Jalan-jalan sepanjang jalan
Singgah-menyinggah di pagar orang
Pura-pura mencari ayam
Ekor mata di anak orang
Orang perempuan hendak bersegak
Lalu diasah kulit awak
Jerawat penuh muka berkerak
Lihat cantik dilumur bedak
Gigi bertatah dengan gewang
Kelip kilau nampak berjahang
Rumah buruk lantai jarang
Kalau terperlus malu kat orang
Asah gigi delima merkah
Kilat cahaya bagai ditatah
Kepala dogol kena belah
Kain direndak kenapa tak basah?
Terketak bagai udang ditangguk
Terlompat-lompat tertepuk-tepuk
Tiada sedar kaki cabuk
Dihurung bebari habis merobok
Cantik manis putih kuning
Bagai tanduk bersending gading
Salah pandang akal dirunding
Perangai pula laksana anjing
Tergesa-gesa balik ke kampung
Pelanduk seekor tidak terkepung
Encik bukan kera dan lontong
Ranting yang buruk hendak bergantung
Ada seekor burung belatuk
Cari makan di kayu buruk
Tuan umpama ayam pungguk
Segan mencakar rajin mematuk
Pantun Hari Raya
Buah pauh di tengah bendang
Jadi dagangan di tengah
Saudara jauh datang bertandang
Bermaaf-maafan sesama kita
Masak udang dan gulai ketam
Pembasuh mulut kuih keris
Berbunyi mercun berdentum-dentam
Riang gembira di Hari Raya
Sungai disusur sehari-hari
Dalam gelap menangkap ikan
Kami meyusun sepuluh jari
Salah dan silap harap maafkan
Aidilfitri hari kemaafan
Menghapus kesalahan sesama insan
Memupuk perpaduan sesama ehsan
Mengikat tali keakraban
Disisir diandam dengan cekap
Potong rambut pelbagai gaya
Puasa sebulan sudahlah lengkap
Kita menyambut Hari Raya
Adik tersayang segak bergaya
Mengait kuih di atas para
Suasana riang di Hari Raya
Bermaaf-maafan riang gembira
Pantun Budi
Tenang-tenang air laut
Sampan kolek mudik ke tanjung
Hati terkenang mulut menyebut
Budi baik rasa nak junjung
Tanam lenggun tumbuh kelapa
Terbit bunga pucuk mati
Budi tuan saya tak lupa
Sudah terpaku di dalam hati
Dari Daik pulang ke Daik
Sehari-hari berkebun pisang
Budi baik dibalas baik
Dalam hati dikenang orang
Kapal belayar dari Arakan
Ambil gaji jadi jemudi
Mati ikan karena umpan
Mati saya karena budi
Banyak ubi perkara ubi
Ubi keledek ditanam prang
Banyak budi perkara budi
Budi baik dikenang orang
Lipat kain lipat baju
Lipat kertas dalam puan
Dari air menjadi batu
Sedikit tak lupa budi tuan
Jentayu burung jentayu
Hinggap di balik pokok mayang
Bunga kembang akan layu
Budi baik bilakan hilang
Jika belayar ke tanah Aceh
Singgah dulu di kota Deli
Jika hendak orang mengasih
Hendaklah baik bicara budi
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi
Dewa sakti melayang ke Daik
Hendak mencari Dewa Jaruga
Kalau ada budi yang baik
Sampai ke mati orang tak lupa
Baik-baik bertanam padi
Jangan sampai dimakan rusa
Baik-baik termakan budi
Jangan sampai badan binasa
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi darjat karena bahasa
Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik di kenang juga
Pergi ke sawah menanam padi
Singgah disungai menangkap ikan
Hidup hendaklah bersendikan budi
Sifat sombong jangan amalkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi
Pisang emas dibawa belayar
Masak sebiji di atas peti
Utang emas boleh dibayar
Utang budi dibayar mati
Anak merak Kampung Cina
Singgah berhenti kepala titi
Emas perak kebesaran dunia
Budi bahasa tak dapat dicari
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
Yang kurik tu kundi
Yang merah saga
Yang baik itu budi
Yang indah itu bahasa
Limau manis dimakan manis
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Manis sekali hati budinya
Cuaca gelap semakin redup
Masakan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup
Barulah kekal dihormati orang
Anna Abadi membeli ginseng
Singgah di pasar mencari kari
Jangan ikut budaya samseng
Kelak menyesal di kemudian hari
Pantun Budi
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pesaka
Gadis Acheh berhati gundah
Menanti teruna menghulur tepak
Gula manis sirih menyembah
Adat dijunjung dipinggir tidak
Manis sungguh gula Melaka
Jangan dibancuh dibuat serbat
Sungguh teguh adat pusaka
Biar mati anak jangan mati adat
Anak teruna tiba di darat
Dari Makasar langsung ke Deli
Hidup di dunia biar beradat
Bahasa tidak dijual beli
Menanam kelapa di Pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitab Allah
Buah berangan di rumpun pinang
Limau kasturi berdaun muda
Kalau berkenan masuklah meminang
Tanda diri beradat budaya
Laksamana berbaju besi
Masuk ke hutan melanda-landa
Hidup berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis dimakan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Ikan berenang di dalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Pokok pinang ditanam rapat
Puyuh kini berlari-lari
Samalah kita menjunjung adat
Tunggak budaya semai dihati
Bukan kacang sebarang kacang
Kacang melilit si kayu jati
Bukan datang sebarang hajat
Datang membawa hajat di hati
Anak-anak berlari ke padang
Luka kaki terpijak duri
Berapa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi harapan kami
Helang berbega Si Rajawali
Turun menyambar anak merbah
Dari jauh menjunjung duli
Sudah dekat lalu menyembah
Angin kencang turunlah badai
Seumur hidup cuma sekali
Tunduk kepala jatuh ke lantai
Jari sepuluh menjunjung duli
Gobek cantik gobek cik puan
Sirih dikunyah menjadi sepah
Tabik encik tabiklah tuan
Kami datang membawa sembah
Doa mustajab selalu terkabul
Kepada Allah kita panjatkan
Sebelum berlangsung ijab dan
Majlis berinai kita dulukan
Pantun Agama
Sungguh indah pintu dipahat
Burung puyuh di atas dahan
Kalau hidup hendak selamat
Taat selalu perintah Tuhan
Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan rebahnya
Dunia ini pinjam-pinjaman
Ke akhirat juga akan sudahnya
Redup bulan nampak nak hujan
Pasang pelita sampai berjelaga
Hidup mati di tangan Tuhan
Tiada siapa dapat menduga
Belatuk di atas dahan
Terbang pergi ke lain pokok
Hidup mati ditangan Tuhan
Kepada Allah kita bermohon
Daun tetap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicuba
Terang bulan terang bercahaya
Cahaya memancar ke Tanjung Jati
Jikalau hendak hidup bahagia
Beramal ibadat sebelum mati
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat jasad tidak sembahyang
Kulit lembu celup samak
Mari buat tapak kasut
Harta dunia janganlah tamak
Kalau mati tidak diikut
Banyaklah masa antara masa
Tidak seelok masa bersuka
Meninggalkan sembahyang jadi biasa
Tidak takut api neraka?
Dua tiga empat lima
Enam tujuh lapan sembilan
Kita hidup takkan lama
Jangan lupa siapkan bekalan
Kalau Tuan pergi ke Kedah
Singgah semalam di Kuala Muda
Sembahyang itu perintah Tuhan
Jika ingkar masuk neraka
Ramai orang menggali perigi
Ambil buluh lalu diikat
Ilmu dicari tak akan rugi
Buat bekalan dunia akhirat
Pak Kulup anak juragan
Mati diracun muntahkan darah
Hidup di dunia banyak dugaan
Kepada Allah kita berserah
Letak bunga di atas dulang
Sisipkan daun hiasan tepinya
Banyak berdoa selepas sembahyang
Mohon diampun dosa di dunia
Encik Borhan seorang kerani
Terkemut-kemut bila meniti
Tinggalkan sembahyang terlalu berani
Sepertii tubuhnya takkan mati
Sayang-sayang buah kepayang
Buah kepayang hendak dimakan
Manusia hanya boleh merancang
Kuasa Allah menentukan
Masa berada di Pulau Jawa
Rakan diajak pergi menjala
Maha Berkuasa jangan dilupa
Kuasa Allah tidak terhingga
Nyiur mudah luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah
Kemuning di dalam semak
Jatuh melayang ke dalam paya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya?
Harimau belang turun sekawan
Mati ditikam si janda balu
Ilmu akhirat tuntutlah tuan
Barulah sempurna segala fardu
Kera di hutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat
Anak ayam turun sepuluh
Mati seekor tinggal sembilan
Bangun pagi sembahyang subuh
Minta doa kepada Tuhan
Anak ayam turun sembilan
Mati seekor tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah jalan ketetapan
Anak ayam turun lapan
Mati seekor tinggal tujuh
Duduk berdoa kepada Tuhan
Supaya terang jalan bersuluh
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Kita hidup mesti beragama
Supaya hidup tidaklah sesat
Tuan Haji memakai jubah
Singgah sembahyang di tengah lorong
Kalau sudah kehendak Allah
Rezeki segenggam jadi sekarung
Bulu merak cantik berkaca
Gugur sehelai ke dalam baldi
Jika tak banyak kitab dibaca
Jangan mengaku khatib dan kadi
Inderagiri pasirnya lumat
Kepah bercampur dengan lokan
Sedangkan nabi kasihkan umat
Inikan pula seorang insan
Anna Abadi pergi berenang
Sambil berenang berdondang sayang
Jika hidup dikurnia senang
Jangan lupa tikar sembahyang
Pengertian Pantun
Pantun ialah bentuk puisi Melayu yang asli dan unik. Ia merupakan sumber khazanah dalam kehidupan masyarakat di Alam Melayu, baik dari segi pemikiran, kesenian, maupun nilai-nilai moral dan sosialnya. Akalbudi orang Melayu dapat dilihat dalam pantun yang diungkapkan secara spontan dengan begitu ringkas dan padat. Ini termasuklah kebijaksanaan dan ketangkasannya menjana makna yang dalam dan mengukir gerak hati serta lukisan rasa yang indah bersama penampilan unsur-unsur alam.
Pantun wujud dalam pelbagai bentuk dan wajah, dari pantun dua kerat dan pantun empat kerat sehingga ke pantun berkait. Genre ini menduduki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat Melayu, justeru diungkapkan dalam permainan kanak-kanak, dalam percintaan, upacara peminangan dan perkahwinan, nyanyian, dan upacara adapt. Pendeknya setiap tahap kehidupan manusia Melayu, yakni dari dalam buaian hingga ke alam percintaan dan hari-hari tua, dibantu dan dihiasi oleh pantun.
Pantun merupakan sastera lisan yang lahir dan berkembang dalam kalangan masyarakat yang akrab dengan alam, dan diwarisi dari generasi ke genarasi . Apabila muncul teknologi percetakan pada akhir abad ke-19, koleksi pantun telah diterbitkan dalam pelbagai dialek Melayu, seperti Betawi, Minangkabau, Peranakan Jakarta dan Melaka, dan bahasa-bahasa seperti Ambon dan Acheh. Kini terdapat kira-kira seratus buah manuskrip pantun yang dikumpulkan di perpustakaan seperti di Jakarta, Leiden, Paris, London, dan Berlin. Kebanyakan pantun tersebut dikutip pada akhir abad ke-19 dan dimuatkan dalam pelbagai koleksi oleh sarjana dari England, Belanda, dan Jerman.
Dapat disebutkan bahawa pantun ialah genre yang tersebar luas dan hampir sarwajagat. Di Alam Melayu, bentuk ini hidup subur dalam sekitar 30 bahasa dan dalam 35 dialek Melayu. Orang-orang Melayu diaspora pula telah membawanya hingga ke Sri Langka, Kepulauan Cocos, Surinam, dan Belanda. Kehadiran pantun di Eropah dan Amerika telah menarik perhatian penyair-penyair hingga menyebabkan timbulnya genre pantoum dalam kesusasteraan Barat mulai abad ke-19.
Kini pantun telah berjaya menambat imaginasi dan kesarjanaan pengkaji di dalam dan di luar bidang sastera, di Alam Melayu dan juga di luarnya. Pantun terus diajar dan diselidiki di pusat-pusat Pengajian Melayu; seminar dan bengkel tentangnya juga terus diadakan.
Senandung Pengayuh
: blt di pantai sunyi
pengayuh[1]-pengayuh saling bertatap
entah bila mencumbu samudera
biarkan sampan menepi sendiri
tanpa pengayuh menjuntai mesra
sampan-sampan asyik mencumbu mesin
pengayuh yang dulu teman abadi
ditinggal di tangga gubuk di sudut
hutan bakau dijalari ketam[2] batu
tapi, saat mesin-mesin minta dituang minuman
saat subsidi dicabut sudah
sampan pun hampir talak tiga dengannya
sedang pengayuh telah jadi kayu bakar
dan
akhirnya antre di kantor pos
Sahril
Kuala Tak Berpantai
entah jauh entah pun dekat
kuala itu semakin asing
tak ada lagi dara pencari remis[3]
tak ada lagi jejaka mengintip lokan[4]
tak jua tercium bau anyer[5] lanyau[6] muara
atau pun aroma bakau
pantai tak lagi berpasir
ombak tak lagi mencumbunya
tambak-tambak telah memoles kuala itu
dengan pancang[7]-pancang sombong
dari bakau yang dirangkas gundul
orang pun tak kuasa menuju pantai
sebab bedil selalu mengintai
karena dicurigai memanen tambak
Sahril
Taliarus
selepas kuala, layar pun dibentang
angin tenggara berhembus mesra
beting[8] pun masih terlelap
menyimpan kepah dan kerangnya
pantai telah di ujung pemandangan
taliarus[9] belum juga terlewati
batas campur antara air laut dengan air tawar
memancar biru melintang sagara
biru miliknya laut
hitam kecoklatan miliknya darat
keduanya tak mau melekat
dipisah jelas oleh taliarus
tapi biru tak lagi muncul
tercemar ulah manusia mashgul
nelayan pun tak tahu lagi di mana
batas untuk berlabuh jaring[10]
tak ada lagi petunjuk alam
angin pun tak ada aturan bertiup
layar urun dibentang
sedang mesin kehabisan bensin
yang telah tak mampu dibeli
Sahril
Menggiring Pasang
nelayan tak mampu mengeja ombak
yang selalu melukis di bianglala
saat nipah dan simali-mali terjepit tambak
rawai[11], kail, jaring tak dilabuh begitu juga jala
anak-anak tak berlari lagi di bibir pantai
berkejaran antara jilatan ombak
menghantar sampah yang habis dipakai
kisah miring pun kian merebak
di ujung pemandangan ada titik cahaya
memancar menghujam silau
sampan tak lagi berdaya
diombang gelombang menyeberang pulau
pulang dengan kating melompong
tak ada ketam, ikan, atau pun udang
untuk disiang lalu dipanggang
pergi ke laut hanya menumpuk utang
Sahril
[1] Dayung sampan yang terbuat dari kayu
[2] kepiting
[3] Sejenis kepah kecil yang dapat di dalam pasir pantai
[4] Sejenis kepah yang besar yang dapat dicari di sekitar rawa bakau di daerah pantai
[5] Amis, seperti bau ikan
[6] Lumpur halus bercampur air laut
[7] Tonggak, tiang
[8] Tanah yang timbul di sekitar muara pantai, di saat air laut surut, biasanya tempat para nelayan mencari kepah dan kerang. Beting umumnya adalah pasir bercampur lumpur.
[9] Batas antara bertemunya air muara yang bercampur dengan air tawar dengan air laut.
[10] Alat untuk menangkap ikan, udang, dll. Biasanya terdiri atas jenis ikan yang akan ditangkap. Misalnya ada jaring bawal, jaring senangin, jaring udang, dll.
[11] Alat penangkap ikan pari berupa pancing/kail
Tidak ada komentar:
Posting Komentar